Menjadi Ustadz-ustadzah Hebat   Leave a comment

Ketika terjadi kehancuran besar-besaran di Jepang saat Perang Dunia II karena kota Nagasaki dan Hiroshima luluh lantak dibom atom oleh Amerika Serikat, kaisar Jepang bertanya kepada para pimpinan di sana. Dia tidak bertanya berapa penduduk yang tewas, tentara yang gugur, atau kerugian yang diakibatkan oleh hancurnya kedua kota besar tersebut. Tetapi pertanyaan yang diajukan oleh kaisar Jepang adalah berapa jumlah guru yang masih hidup.
Guru, pengajar atau ustadz dalam sebutan islam adalah pekerjaan yang dihormati di Jepang, selain penulis dan petani. Guru merupakan sosok yang dihormati karena guru adalah yang mengajarkan ilmu kepada generasi-generasi muda. Maka kita bisa melihat bahwa di Jepang ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat pesat. Demikian juga di beberapa negara-negara maju yang selalu mementingkan ilmu pengetahuan khususnya pekerjaan guru, maka ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat. Seperti di Jerman, Perancis dan lain sebagainya. Kehidupan guru di sana pun dijamin sejahtera.
Pada zaman Umar bin Khattab, guru mengaji Al Qur’an mempunyai gaji tertinggi dibanding pekerjaan lainnya, karena begitu besar rasa hormat dan cintanya terhadap ilmu, khususnya ilmu agama.
Di dalam sebuah penelitian selama 30 tahun di empat sekolah berbeda. Pertama sekolah yang memiliki guru bermutu dan lengkap sarananya, kedua sekolah yang memiliki guru bermutu tapi tidak lengkap sarananya, ketiga sekolah yang tidak memiliki guru bermutu tapi lengkap sarananya, dan terakhir adalah sekolah yang tidak memiliki guru bermutu dan tidak lengkap sarananya. Dari penelitian tersebut ternyata inti dari sebuah pendidikan adalah guru dan inti dari pendidikan adalah pendidikan bukan menjadikan seseorang menjadi lebih banyak tahu, tetapi menjadikan perilaku yang berbeda menjadi lebih baik. Sekolah yang memiliki guru yang bermutu ternyata memiliki prestasi yang bagus, walaupun sarananya tidak memadai.
Maka seorang guru harus menjadi seorang yang profesional, bermutu dan hebat. Utamakan mengajar dengan cara yang terbaik. Misalkan di tiga TPA atau sekolah anak memberikan aturan yang berbeda dalam menghukum anak yang ramai. TPA pertama tidak memikirkan anak ramai asal mereka sering ke masjid. Belajar nomor sekian dan paling penting cinta masjid. Bila cinta masjid maka bis amenjadi mudah untuk belajar. TPA kedua menyuruh anak mengerjakan soal. TPA ketiga akan membiarkan anak rame di luar agar tidak terkekang dan menyuruh mewancarai orang lewat atau menilai tumbuh-tumbuhan. Itulah beberapa cara kreatif. Perlu diingat bahwa tidak ada anak yang nakal tetapi anak adalah orang yang kreatif.

Ustadz Fatan Fantastik
(disampaikan pada Siluet Mergangsan bulan Juni 2009 di TPA Nurul Ihsan)

Posted Juli 27, 2009 by badkomergangsan in Siluet

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: